Sekolah | Pendidikan formal adalah salah satu sarana untuk membuka wawasan dan pola pikir anak. Dengan terbukanya wawasan dan pola pikir anak, diharapkan anak mampu untuk menghadapi berbagai masalah yang akan dia hadapi.

Oleh karena itu, pendidikan harus disesuaikan dengan perkembangan mental dan otak anak tiap umur. Sayangnya, banyak orang-tua yang menganggap bahwa kecerdasan intelektual selama masa sekolah adalah tolak ukur dari kesuksesan anak. Hal ini lantas menyebabkan banyaknya jumlah anak yang dituntut untuk memiliki nilai bagus tanpa memperhatikan kondisi mental dan otak sang anak.

Ada beberapa kasus yang akhirnya disebarkan oleh beberapa orang-tua korban melalui media sosial. Dalam suatu kasus, ada seorang anak yang merupakan anak yang memiliki nilai sempurna, berprestasi, dan menjadi unggulan para guru di sekolahnya. Jadwal belajar sang anak pun sudah disusun dengan rapi oleh orang-tuanya, mulai dari jadwal les musik hingga les mata pelajaran.

Sejak awal, tidak ada masalah yang terlihat samasekali selama sang anak menjalankan jadwal tersebut. Orang-tua dan lingkungan sekitarnya pun bangga atas prestasi anak tersebut.

Namun pada saat liburan, sang anak tiba-tiba sakit dan penyakitnya tidak dapat terdeteksi oleh seluruh dokter medis yang telah didatangi di berbagai rumah sakit. Dengan anjuran teman, akhirnya sang anak dibawa ke seorang psikolog dan diketahui bahwa sang anak kelelahan mental. Ternyata, sang anak tidak menyukai rentetan aktivitasnya, namun ia mencoba untuk tidak mengeluh dan tetap mencoba untuk membahagiakan kedua orang-tuanya.

Dari contoh di atas, cukup jelas bahwa apa yang terjadi bukanlah semata-mata kesalahan orang-tua yang lalai dalam memperhatikan kondisi mental sang anak. Lingkungan sekitar, termasuk para guru, juga mengambil andil dalam mendukung perspektif bahwa kecerdasan intelektual adalah tolak ukur kesuksesan.

Sekolah Sebagai Ajang Gengsi ?

Pendidikan formal yang kita kenal sebagai sekolah pun bergeser fungsinya dari sebuah media untuk membangun mental dalam menghadapi masalah anak menjadi media yang membatasi ruang gerak anak dengan sistem prestasi dalam bentuk angka maupun huruf.

Kondisi ini diperparah dengan sistem pendidikan di Indonesia juga belum disesuaikan dengan pengetahuan mengenai perkembangan otak dan mental anak. Dikutip dari berita di metrotvnews.com, Anies Baswedan selaku Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pun meyatakan bahwa kemampuan membaca dan menulis harus menjadi fokus perhatian para guru.

“Sebab kemampuan bahasa dan matematika merupakan (kebutuhan) sangat mendasar sekali. Bahasa misalnya berkaitan dengan logika, karena (saat membaca) struktur kalimat itu membentuk logika berpikir,” ujarnya. Dengan demikian, tidak heran jika banyak anak yang pada akhirnya dituntut untuk terus mengejar kecerdasan intelektual meskipun sesungguhnya belum waktunya. Orang-tua menelan paradigma bahwa anak yang sudah masuk Sekolah Dasar (SD) sudah harus lancar baca tulis atau sang anak akan menjadi anak bodoh dan akhirnya mereka menuntut anak untuk bisa melalui berbagai pelajaran tambahan yang memberatkan mental sang anak.

Modal sikap seorang dalam menghadapi MEA

Presepsi

Dengan adanya persepsi umum bahwa kecerdasan intelektual menjadi tolak ukur kesuksesan anak, tidak dapat dipungkiri bahwa sekolah pun berubah menjadi sebuah tempat mengejar gelar demi gengsi semata. Anak dituntut untuk bersekolah setinggi-tingginya guna mendapatkan gelar dan pekerjaan yang pantas serta menaikkan status sosial keluarga.

Hal ini tidak merupakan ironi karena pada akhirnya banyak orang-tua yang secara tak sadar menuntut anak untuk terus mengasah kecerdasan intelektual tanpa memperhatikan kondisi mental, kemampuan, dan kapasitas sang anak dan mengambil andil dalam pergeseran fungsi sekolah yang sesungguhnya.

Kasus ini merupakan sebuah krisis yang diabaikan oleh banyak pihak. Kita semua sebagai orang yang terlibat di dalamnya mungkin tak dapat berbuat banyak dalam memperbaiki sistem pendidikan Indonesia secara langsung. Meski demikian, ada beberapa hal sederhana yang dapat kita mulai.

Peran serta dosen dalam memajukan bangsa

Solusi

Yang pertama adalah mencoba untuk mencari tahu lebih lanjut mengenai perkembangan otak anak dan bagaimana cara memaksimalkannya. Apabila anak masih berusia belia, ada baiknya biarkan anak bermain dan jangan membebani dengan hal-hal yang belum waktunya. Bila memang anak sudah sekolah, hindari memberikan pelajaran tambahan yang berlebihan demi sebuah nilai.

Cobalah untuk eksplorasi apakah sang anak memiliki bakat lainnya selain di bidang akademis dan dukung terus sang anak untuk melakukan berbagai kegiatan positif di bawah arahan orang-tua. Hal ini akan membantu anak untuk menemukan bakatnya serta mengasah berbagai hal yang dibutuhkan anak untuk menjadi sukses. Harap diingat bahwa kecerdasan intelektual bukanlah satu-satunya jalan untuk mencapai kesuksesan.

Cara lainnya adalah untuk tidak mengekspos kepandaian atau prestasi anak di media sosial. Secara tidak langsung, hal ini memberikan berbagai tekanan mental ke anak untuk mempertahankan atau meraih standar yang diharapkan oleh lingkungan sekitar mereka. Dengan demikian, anak dapat mengeksplorasi kemampuan mereka tanpa rasa takut dan belajar dari kesalahan guna membangun mental yang kuat di saat mereka beranjak dewasa.

Tidak terbatas pada hal tersebut saja, apabila Anda adalah orang yang memiliki keahlian atau posisi tertentu, Anda dapat mengambil andil dengan melakukan kontribusi berbeda sekecil apapun secara langsung untuk membangun kesadaran masyarakat luas tentang pentingnya pendidikan mental dan sifat dibandingkan pendidikan intelektual semata. Pendidikan formal memang merupakan sebuah media bagi anak untuk berkembang, meski demikian, media tersebut harus digunakan dengan tepat untuk membentuk generasi yang tangguh dan dapat meraih kesuksesan di kemudian hari. Meskipun tak semudah membalikkan telapak tangan, mari kita bantu dan gunakan pendidikan formal yang tersedia sebaik-baiknya untuk mengasah kemampuan generasi mendatang dengan lebih baik.